Home » » Jejak Muhammadiyah di Sumbawa

Jejak Muhammadiyah di Sumbawa

Written By Mesa Muslih on Rabu, 26 Maret 2014 | 06.38

Jejak Muhammadiyah di Sumbawa
Oleh: Mesa Muslih
(Ketua PDPM Kota Mataram)


Muhammadiyah di Sumbawa lahir tahun 1940 dan mencapai puncak kejayaan sekitar tahun 1966. Saat itu sebagian besar desa di Sumbawa telah berdiri Ranting Muhammadiyah. Sumbawa menjadi perhatian sendiri, karena salah seorang putranya, Prof Dien Syamsuddin kini menjadi Ketua PP Muhammadiyah.
------------------------------
Berbeda dengan di Pulau Lombok dimana dakwah Muhammadiyah banyak dipelopori kaum pendatang, di Pulau Sumbawa, Muhammadiyah justru diperkenalkan putra daerahnya sendiri. Di Sumbawa Besar misalnya, Muhammadiyah lahir dari organisasi pengajian lokal yang diberi nama Masa (Majelis Ahlus Sunah Asli).
Organisasi yang dibentuk sekitar tahun 1934 itu merupakan perkumpulan kecil yang beranggotakan putra daerah. Tujuannya untuk memurnikan kembali ajaran Islam yang berlandaskan Al Quran dan Al Hadits.
Menariknya, rujukan anggota Masa dalam berdakwah pada saat itu justru buku-buku dan majalah terbitan organisasi Islam Persis. Memang ada juga bahan kajian yang bersumber dari tulisan-tulisan tokoh Muhammadiyah, Hamka. Namun, secara rutin anggota Masa membahas kajian Islam yang ditulis dalam majalah terbitan organisasi Persis Bandung pada saat itu, Pembela Islam. Artikel dan kolom tanya jawab di majalah inilah yang menjadi rujukan utama dalam dakwah pemurnian ajaran Islam yang dipelopori kader Masa.
Meskipun sumber kajian dakwahnya adalah buku-buku terbitan Persis, anggota Masa ternyata tidak membentuk cabang Persis di Sumbawa. Justru sekitar tahun 1940 mereka membentuk Ranting Muhammadiyah.
Dalam buku Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Sumbawa yang dikarang HA Latief Malik terungkap masuknya anggota Masa ke Muhammadiyah atas ajakan Abdul Karim Daeng Matalli, pegawai Volkscrediet Bank Makassar (Sekarang BRI) yang dimutasi ke Sumbawa. Abdul Karim merupakan seorang mubaligh Muhammadiyah asal Makassar. Tak heran ketika tiba di Sumbawa yang pertama dilakukannya adalah mencari kelompok pengajian yang bertujuan memurnikan ajaran Islam untuk diajaknya berdiskusi.
‘’Saat baru tiba di Sumbawa, dia mendengar organisasi Masa. Selanjutnya setelah berdiskusi beberapa lama dengan pengurus Masa, disepakati pembentukan Ranting Muhammadiyah di Sumbawa Besar,’’ tutur Ketua PWM NTB H Syamsuddin Anwar yang ayahnya termasuk salah satu anggota Muhammadiyah generasi pertama di Sumbawa.
Di Sumbawa Besar Ranting Muhammadiyah dibentuk berdasarkan SK PP Muhammadiyah tertanggal 29 Mei 1940. Ketua pertama Ranting Muhammadiyah Sumbawa Besar adalah Abdullah Nur yang sebelumnya ditunjuk sebagai Ketua Masa. Abdullah Nur sendiri menjadi tokoh Muhammadiyah yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan Muhammadiyah. Dia tercatat memimpin Muhammadiyah di Sumbawa hingga tahun 1966, saat Muhammadiyah di Sumbawa tengah jaya-jayanya. Tiga tahun kemudian tepat 6 November 1969 Abdullah Nur akhirnya meninggal dunia.
 ‘’Bisa dikatakan Abdullah Nur merupakan Bapaknya Muhammadiyah di Sumbawa, karena seluruh hidupnya didedikasikan untuk mengembangkan Muhammadiyah disana,’’ kata Syamsuddin.
Anggota Masa pada saat itu tersebar di sejumlah wilayah di Sumbawa. Mereka inilah yang mempelopori terbentuknya ranting Muhammadiyah di daerah. Dalam kurun waktu satu tahun saja, jumlah ranting yang ada sudah mencukupi untuk terbentuknya sebuah cabang Muhammadiyah. Akhirnya tanggal 27 September 1941 ranting Muhammadiyah Sumbawa Besar meningkat statusnya menjadi Cabang Muhammadiyah.
Komitmen para pendiri Muhammadiyah di Sumbawa untuk membesarkan persyarikatan tersebut terbilang cukup besar. Saat baru berdiri, Muhammadiyah Sumbawa sudah langsung memiliki gedung pusat dakwah sendiri yang hingga kini masih berdiri di Jalan Sultan Hasanuddin nomor 33 Sumbawa Besar. Gedung ini kemudian tidak hanya berfungsi sebagai pusat dakwah Muhammadiyah, tetapi juga menjadi gedung Madrasah Diniyah Muhammadiyah pertama di Sumbawa.
Sayang seiring masuknya Jepang ke Indonesia gerakan Muhammadiyah menjadi mandeg, karena Jepang tidak mengizinkan adanya organisasi yang didirikan pribumi. Namun pada tahun 1943 Jepang sedikit melunak dan memberi izin Muhammadiyah sebagai ‘’Perkumpulan Agama Islam’’ dengan segudang persyaratan ketat.

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Muhammadiyah di Sumbawa kembali menggeliat. Bahkan pada tahun 1952, pengurus Muhammadiyah di Sumbawa kembali mendirikan amal usaha berupa SMP Muhammadiyah yang merupakan SMP swasta pertama di Pulau Sumbawa. Pada kurun waktu antara tahun 1964 hingga 1966, berdirilah sejumlah cabang Muhammadiyah baru di Sumbawa, yaitu Cabang Alas, Taliwang, Ai’ Paya, Mapin, Seteluk, Empang dan BuEr. Beberapa tahun kemudian lahir pula cabang baru di kecamatan lainnya. Ranting-ranting Muhammadiyah juga tumbuh bak jamur di musim hujan. Muhammadiyah Sumbawa pun mencapai masa keemasannya. (Bersambung)

2 komentar:

Template Information