Home » » Muhammadiyah Ingin Seperti Sapi atau Harimau?

Muhammadiyah Ingin Seperti Sapi atau Harimau?

Written By Mesa Muslih on Rabu, 26 Maret 2014 | 06.51


Muhammadiyah Ingin Seperti Sapi atau Harimau? 
Oleh: Mesa Muslih
(Ketua PDPM Kota Mataram)



Suatu ketika Ketua PWM NTB pertama HS Habib Adnan (almarhum) pernah bertanya kepada Ketua PP Muhammadiyah saat itu HM Amien Rais. Pertanyaannya sederhana, mengapa harimau yang dilindungi populasinya jauh lebih kecil dibanding sapi. Padahal sapi tiap hari disembelih?
Menurut Habib, jawabannya karena sapi memberi manfaat bagi manusia sehingga dipelihara dan dirawat sepenuh hati. Sedangkan harimau kebanyakan memberi mudharat sehingga diburu dan dibantai.
Muhammadiyah menurut Habib Adnan dianalogikan seperti sapi itu. Muhammadiyah dinilainya terus memberi manfaat kepada umat sehingga organisasinya terus tumbuh dan amal usahanya terus berkembang di mana-mana baik di dalam maupun luar negeri.
Dialog Habib Adnan dan Amien Rais yang dituturkan kembali mantan Ketua PWM NTB Drs H Syamsuddin Anwar itu menjadi pemicu semangat kader Muhammadiyah NTB untuk terus memberikan manfaat kepada umat. Dalam kondisi apapun, kader Muhammadiyah akan terus menyampaikan dakwah. Dan, bentuk dakwah yang dikedepankan adalah dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan.
Kader Muhammadiyah tidak akan pernah ragu menyebut dirinya Muhammadiyah. Resikonya semua perbuatannya akan dianggap orang sebagai buah ajaran Muhammadiyah. Hal ini akan membuat yang bersangkutan terus termotifasi untuk terus berbuat kebaikan dan member manfaat kepada orang lain. Sebab jika dia melakukan perbuatan yang tidak baik, maka nama Muhammadiyah juga akan tercoreng.
Dari dakwah bil hal ini, orang akan tertarik terhadap dakwah Muhammadiyah dan diharapkan terpacu untuk ikut pula berdakwah memurnikan ajaran Islam sebagaimana tujuan Muhammadiyah didirikan.
Motifasi melakukan dakwah bil hal ini pula yang membuat Muhammadiyah getol mendirikan berbagai amal usaha. Melalui amal usaha Muhammadiyah ini diharapkan dakwah Muhammadiyah akan terus berlangsung sampai kapanpun. Amal usaha Muhammadiyah ini tidak hanya berupa lembaga pendidikan berupa madrasah, sekolah umum dan pondok pesantren. Muhammadiyah juga banyak mendirikan klinik kesehatan, klinik bersalin, hingga rumah sakit. Di Bidang ekonomi Muhammadiyah juga mengembangkan koperasi hingga bank syariah serta organisasi pemberdayaan ekonomi umat. Di Bidang hukum, LBH Muhammadiyah bertebaran di sejumlah daerah. Di Bidang sosial Panti Asuhan Muhammadiyah juga banyak didirikan.
Muhammadiyah harus terus memberikan manfaat bagi umat, sehingga tak heran umat membutuhkan Muhammadiyah. Dari situlah dakwah Muhammadiyah terus berlangsung.
Meski NTB belum menjadi basis utama massa Muhammadiyah di Indonesia, perkembangan amal usaha Muhammadiyah di NTB terbilang luar biasa. Hingga Januari 2010 ini tercatat sudah 37 sekolah setingkat SD hingga SMA yang berdiri, serta tiga universitas. Muhammadiyah juga memiliki sejumlah klinik dan Rumah sakit serta amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga mengelola sejumlah panti asuhan dan lembaga ekonomi pemberdayaan umat.
Amal usaha yang didirikan Muhammadiyah tidak sepenuhnya bertujuan provit. Banyak amal usaha yang didirikan di daerah terpencil dengan maksud memberikan agar akses pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman. Bahkan pada awal kelahirannya, sekolah maupun madrasah yang didirikan Muhammadiyah kerap menjadi yang pertama berdiri di NTB.
''Meski amal usaha Muhammadiyah begitu banyak, Pengurus Muhammadiyah tidak ada yang kaya. Gedung dakwah saja baru bias kita dirikan, dan saat ini dan masih dalam proses pembangunan,’’ tutur Syamsuddin dalam dialog dengan penulis beberapa waktu lalu.
Tidak hanya mengembangkan amal usaha, Muhammadiyah juga membentuk sejumlah lembaga dan majelis yang bertujuan pemberdayaan umat, maupun lembaga dakwah. Lembaga pertama yang dibentuk adalah Majelis Tabligh. Di NTB Majelis Tabligh telah ada seiring dengan lahirnya Muhammadiyah di NTB, namun mulai efektif sekitar tahun 1935. Lembaga Tabligh bertugas mengajak manusia dan umat Islam untuk kembali kepada ajaran Al Quran dan Hadits serta membebaskan Islam dari Tahayul Bidah dan Churafat (TBC). Hingga saat ini Majelis Tabligh Muhammadiyah aktif menggelar pengajian rutin, mulai di tingkat wilayah hingga ranting Muhammadiyah di desa.
Seiring dengan berkembangnya amal usaha di bidang pendidikan, Muhammadiyah membentuk Majelis Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.  Ada juga Majelis Pembina Kesejahteraan Umat yang didirikan tahun 1990. Sebelumnya pada tahun 1978 di NTB juga dibentuk Majelis Tarjih dimana salah satunya bertugas mengkaji hukum Islam yang menjadi dasar pelaksanaan dakwah Muhammadiyah. Muhammadiyah NTB juga membentuk Majelis Wakaf dan Kehartabendaan yang mulai berdiri sejak tahun 1959 lalu. Majelis tersebut bertugas menginventaris tanah wakaf, amal usaha hingga mempelopori berdirinya perpusatakaan, penerbitan Muhammadiyah dan sebagainya. Selain itu, Muhammadiyah juga  membentuk lembaga lain seperti Majelis ekonomi, Majelis Hikmah dan sebagainya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Template Information